Sunday, October 17, 2010

Keputusan Baru

Ia mengambil jaket kulit cokelatnya. Menghela napas pelan. Kemudian mengenakannya. Sepasang matanya mengerling sedikit ke arah gadis yang duduk di sampingnya, lalu sudut bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Gadis itu balik memandangnya heran, raut wajahnya menyiratkan ia tak mengerti apa maksud dari senyuman kecil itu.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
Sepasang mata itu menatap sang gadis dengan lembut, namun terkesan penuh rahasia. “Tidak...,” nadanya menggantung, masih mengulum senyum.
Gadis itu mendekat dengan cepat, “Apa?” ia memaksa.
“Astaga, tidak ada apa-apa, Indira...,” nadanya masih menggantung, jaket cokelat sudah terpasang di tubuhnya, menutupi kulitnya yang seolah baru terbakar sinar matahari.
Ketika ia melihat Indira nyaris menggerutu, tangan kanannya seolah refleks menyentuh kepala gadis itu pelan, matanya menangkap sosok Indira yang tersentak.
“Kamu selalu begitu,” keluh Indira. “Levin?”
“Ya?”
Indira memutar bola matanya. Melihat hal itu, Levin tersenyum kecil. “Kamu tahu apa yg ingin kukatakan. Sejak awal di pesawat tadi.”
“Apa? Mengenai kota ini, Jakarta?” tanya Indira setengah tersenyum.
“Yah..., begitulah,” jawabnya.
“Jakarta, adalah kota yang kutunggu-tunggu,” Indira menyambung, pandangan matanya menyapu bersih hingga ke sudut-sudut ruang cafe yang sedang disinggahinya.
Levin bergumam. “Sepertinya aku tahu,” balasnya.
Tiba-tiba gadis itu tertawa kecil. “Awal hidupku, Levin,” ia berbisik di telinga Levin.
“Ah, ya..., satu pertanyaan lagi. Bagaimana rasanya menunggu selama 2 tahun?” ia bertanya hati-hati.
Indira meletakkan cangkir kopinya kembali, tidak jadi menyesapnya. Bola mata Indira berwarna biru terang, dari sana Levin dapat melihat yang terdalam dari seorang Indira. “Rasanya beraneka ragam,” ujarnya.
“Seperti?”
“Kamu tidak akan suka mendengarnya,” jawab Indira, mengakhiri segala pertanyaan yang sebenarnya masih berlanjut dalam benak Levin.
Ia menahan nafas. Sebenarnya ia tahu benar apa yang dirasakan Indira, tapi jauh lebih baik ia tak perlu mengungkitnya lagi. “Kalau benar aku tidak suka,” Levin menimpali.
“Levin, lebih baik kita pergi sekarang, bandara selalu bising dan penuh sesak yah?” Indira mengeluh.
“Bahkan di cafe sekalipun?”
Senyum Indira mengembang, “Ah..., ya menurutku sama saja.”
“Kubawakan kopermu,” tawar Levin ketika bangkit berdiri dari tempatnya duduk.
“Thanks,” balasnya.
Keduanya berjalan berdampingan, keluar dari suasana cafe yang sedang ramai seolah membuat Levin dapat bernafas lega. Ia menekan tombol buka pada kunci mobilnya, Audi R8-nya menjawab tak jauh dari tempat mereka berjalan.
“Bagaimana kabar paman dan bibimu di sana?” Levin membuka pembicaraan sementara ia mengendarai mobilnya melesat keluar dari Soekarno Hatta.
Indira tersenyum. “Mereka sangat baik. Paman Lauren sudah tahu lebih dulu keputusanku untuk pindah sudah bulat. Ia menginginkan yang terbaik buatku.”
“Baguslah...” jawabnya.
“Dan..., bagaimana dengan Lexus?” Indira bertanya tiba-tiba.
Levin terdiam. “Sepertinya kamu lebih tahu tentang dia daripada aku.”
“Terakhir, dia memintaku untuk tetap tinggal.”
“Dia tahu kau akan pindah? Kemari?” tanya Levin.
“Bibi Clare tak sengaja bilang padanya,” Indira menghembuskan nafas berat.
“Sepertinya semuanya tidak bisa berjalan baik-baik, seperti semula,” Levin mengambil keputusan.
“Apapun yang terjadi, aku memilih, dan aku mencintaimu,” ujar gadis itu.
“Sulit jika kau melakukannya di tengah-tengah aku dan Lexus,” katanya berat.
“Menurutku sudah cukup sulit terlibat di keluarga Agsias. Terlalu banyak misteri, dan aku takut aku masih tak mengenalmu bahkan setelah 4 tahun ini berlalu, Levin.”
“Aku tidak memaksamu terlibat,” itulah. Itulah kata terakhir yang ingin kuungkapkan padamu, batinnya berujar letih.
“Aku terlibat dengan sendirinya...,” Levin tak menduga itu jawaban Indira.
“Semenjak kau bukan lagi Rhan, sepertinya kau menjadi lebih dewasa,” senyum mengembang di wajah Levin.
“Sudahlah, jangan dibahas. Siapapun kamu atau aku, sekarang adalah lembaran yang baru.”
“Yang dulu...,”
“Biarlah berlalu,” Indira menyambung.

By: Johanna Melissa

Tuesday, September 14, 2010

New Begining

Salju menarik napas lega begitu pesawat yang di tumpanginya berhasil mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta. Itu berarti ia sudah sampai di kota kelahirannya – Jakarta. Salju tersenyum senang. Ini adalah liburan pertamanya setelah hampir dua tahun ia tidak kembali ke Indonesia. Kuliah di luar negeri rupanya tidak seenak yang Salju kira sebelumnya. Kalau tidak benar-benar fasih berbahasa inggris, ia tidak akan pernah sampai di University of Cambridge – England. Yap! Universitas terbaik di Inggris. Dan ia berhasil melewati dua tahun di sana tanpa pernah mendapatkan nilai yang rendah.
Kepulangannya kini karena undangan papa yang khusus meminta dirinya pulang ke Indonesia untuk merayakan hari ulang tahunnya yang jatuh tepat dua bulan yang akan datang. Dan tahun ini ia tidak perlu merayakan hari ulang tahunnya sendirian di kota Cambridge. Ia bisa merayakan ulang tahunnya seperti dulu lagi, bersama papa tercinta. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk merasakan kebahagiannya dua bulan ke depan.
Suara pramugari terdengar jelas dari Microphone bahwa pesawat sudah benar-benar memarkirkan tubuhnya dan para penumpang di persilahkan untuk turun. Kebahagiaan Salju membuncah begitu ia merasakan hawa panas dan terik matahari yang benar-benar menyengat di kulitnya yang putih. Ia membersihkan lensa kacamatanya yang buram. Dengan langkah tergesa-gesa, Salju mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di tempat pengambilan barang.
Salju tidak melihat sekeliling dan sibuk membersihkan kacamatanya sampai-sampai ia terpeleset air pel di depannya. Ia hampir jatuh kalau tidak ada tangan yang menariknya kuat.
Auch!” protes Salju ketika tangan itu dengan kuat menariknya untuk kembali berdiri tegak. Kacamata yang di pegangnya jatuh dan retak di bagian kiri atas. Beberapa orang melihat Salju heran. Petugas kebersihan yang tidak melihat Salju terpeleset lalu di tegur oleh petugas kebersihan lainnya. Petugas itu meminta maaf pada Salju yang di sambut dengan anggukan pelan darinya.
Salju menatap kacamatanya terkejut. “Oh.. No! My glasses!”. Ia meratapi kacamatanya yang retak dan mendongak melihat siapa yang menolongnya. Salju melihat sosok laki-laki tinggi, putih, tegap dan... tampan. Laki-laki itu jelas bukan orang Indonesia. Bentuk tubuh yang atletis dan muka barat terlukis jelas di wajahnya. Tapi dengan segera Salju memalingkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak mau tertangkap basah sedang memerhatikan laki-laki itu.
Are you okay miss?” tanya laki-laki itu.
Yeah.. i’m fine.” Kata Salju sambil tersenyum. Laki-laki itu membalas senyuman Salju sekilas dan memindahkan pandangannya ke tangan Salju.
How about your glasses?”
“Just a bit crack here.. not a big deal.” kata Salju sambil menunjuk bagian kiri kacamatanya yang retak. Laki-laki itu tersenyum maklum.
So...”
“Thank’s for your help.” Kata Salju tak enak hati karena lupa berterima kasih.
“My pleasure miss..” dan laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan Salju.
Salju menatap punggung laki-laki itu menghilang di kerumunan orang dan ia melanjutkan perjalanannya menuju tempat pengambilan barang.
Jakarta.. I’m comming! Batin Salju bersemangat dan segera melupakan retakan di kacamatanya.
***
By: Elisabeth Vonessa




Tuesday, August 24, 2010

Debu dan Salju - Prolog

Kau salju aku debu,
Bertemu tanpa sengaja
Kau jatuh ke dalam pelukanku,
Mengalir dalam darahku...

Kau hadir dan mengetuk gua pintuku,
Mengukir namamu di dalam hatiku,
Seakan jiwamu menyatu dalam rohku...

Hujan turun menghapuskan semua mimpi
Bias warnamu terhilang namun,
Kau tetap seperti salju... .


by : Johanna Melissa