Ia mengambil jaket kulit cokelatnya. Menghela napas pelan. Kemudian mengenakannya. Sepasang matanya mengerling sedikit ke arah gadis yang duduk di sampingnya, lalu sudut bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Gadis itu balik memandangnya heran, raut wajahnya menyiratkan ia tak mengerti apa maksud dari senyuman kecil itu.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
Sepasang mata itu menatap sang gadis dengan lembut, namun terkesan penuh rahasia. “Tidak...,” nadanya menggantung, masih mengulum senyum.
Gadis itu mendekat dengan cepat, “Apa?” ia memaksa.
“Astaga, tidak ada apa-apa, Indira...,” nadanya masih menggantung, jaket cokelat sudah terpasang di tubuhnya, menutupi kulitnya yang seolah baru terbakar sinar matahari.
Ketika ia melihat Indira nyaris menggerutu, tangan kanannya seolah refleks menyentuh kepala gadis itu pelan, matanya menangkap sosok Indira yang tersentak.
“Kamu selalu begitu,” keluh Indira. “Levin?”
“Ya?”
Indira memutar bola matanya. Melihat hal itu, Levin tersenyum kecil. “Kamu tahu apa yg ingin kukatakan. Sejak awal di pesawat tadi.”
“Apa? Mengenai kota ini, Jakarta?” tanya Indira setengah tersenyum.
“Yah..., begitulah,” jawabnya.
“Jakarta, adalah kota yang kutunggu-tunggu,” Indira menyambung, pandangan matanya menyapu bersih hingga ke sudut-sudut ruang cafe yang sedang disinggahinya.
Levin bergumam. “Sepertinya aku tahu,” balasnya.
Tiba-tiba gadis itu tertawa kecil. “Awal hidupku, Levin,” ia berbisik di telinga Levin.
“Ah, ya..., satu pertanyaan lagi. Bagaimana rasanya menunggu selama 2 tahun?” ia bertanya hati-hati.
Indira meletakkan cangkir kopinya kembali, tidak jadi menyesapnya. Bola mata Indira berwarna biru terang, dari sana Levin dapat melihat yang terdalam dari seorang Indira. “Rasanya beraneka ragam,” ujarnya.
“Seperti?”
“Kamu tidak akan suka mendengarnya,” jawab Indira, mengakhiri segala pertanyaan yang sebenarnya masih berlanjut dalam benak Levin.
Ia menahan nafas. Sebenarnya ia tahu benar apa yang dirasakan Indira, tapi jauh lebih baik ia tak perlu mengungkitnya lagi. “Kalau benar aku tidak suka,” Levin menimpali.
“Levin, lebih baik kita pergi sekarang, bandara selalu bising dan penuh sesak yah?” Indira mengeluh.
“Bahkan di cafe sekalipun?”
Senyum Indira mengembang, “Ah..., ya menurutku sama saja.”
“Kubawakan kopermu,” tawar Levin ketika bangkit berdiri dari tempatnya duduk.
“Thanks,” balasnya.
Keduanya berjalan berdampingan, keluar dari suasana cafe yang sedang ramai seolah membuat Levin dapat bernafas lega. Ia menekan tombol buka pada kunci mobilnya, Audi R8-nya menjawab tak jauh dari tempat mereka berjalan.
“Bagaimana kabar paman dan bibimu di sana?” Levin membuka pembicaraan sementara ia mengendarai mobilnya melesat keluar dari Soekarno Hatta.
Indira tersenyum. “Mereka sangat baik. Paman Lauren sudah tahu lebih dulu keputusanku untuk pindah sudah bulat. Ia menginginkan yang terbaik buatku.”
“Baguslah...” jawabnya.
“Dan..., bagaimana dengan Lexus?” Indira bertanya tiba-tiba.
Levin terdiam. “Sepertinya kamu lebih tahu tentang dia daripada aku.”
“Terakhir, dia memintaku untuk tetap tinggal.”
“Dia tahu kau akan pindah? Kemari?” tanya Levin.
“Bibi Clare tak sengaja bilang padanya,” Indira menghembuskan nafas berat.
“Sepertinya semuanya tidak bisa berjalan baik-baik, seperti semula,” Levin mengambil keputusan.
“Apapun yang terjadi, aku memilih, dan aku mencintaimu,” ujar gadis itu.
“Sulit jika kau melakukannya di tengah-tengah aku dan Lexus,” katanya berat.
“Menurutku sudah cukup sulit terlibat di keluarga Agsias. Terlalu banyak misteri, dan aku takut aku masih tak mengenalmu bahkan setelah 4 tahun ini berlalu, Levin.”
“Aku tidak memaksamu terlibat,” itulah. Itulah kata terakhir yang ingin kuungkapkan padamu, batinnya berujar letih.
“Aku terlibat dengan sendirinya...,” Levin tak menduga itu jawaban Indira.
“Semenjak kau bukan lagi Rhan, sepertinya kau menjadi lebih dewasa,” senyum mengembang di wajah Levin.
“Sudahlah, jangan dibahas. Siapapun kamu atau aku, sekarang adalah lembaran yang baru.”
“Yang dulu...,”
“Biarlah berlalu,” Indira menyambung.
By: Johanna Melissa
No comments:
Post a Comment