Thursday, March 10, 2011

Time Travel

Salju menatap cuaca kota Jakarta yang beberapa hari ini sangat tidak bersahabat. Entah sudah berapa hari berlalu dengan cuaca mendung dan berakhir hujan. Salju menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan hari ini. Setelah hampir seminggu berada di Jakarta, ia belum sempat bertemu dengan papanya. Wajar memang, karena papa memiliki perusahan besar yang pasti tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Ia bisa mengerti walau sebenarnya sedikit kecewa karena papa tidak jadi menjemputnya di bandara minggu lalu. Tapi walau begitu, Salju senang bisa bertemu dengan mama tercinta. Mama sering mengingatkan Salju bahwa ia tidak boleh kecewa atas ketidakhadiran papa seminggu belakangan ini. Papa begitu sibuk mengurusi pekerjaannya di kantor. Salju mengerti. Ia harus bisa mengerti karena papa sedang berusaha keras mempertahankan apa yang sudah menjadi milik keluarganya.
Salju mengerang sedikit sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak ke cermin meja riasnya. Cermin itu memantulkan sesosok perempuan tinggi, langsing, berambut hitam pekat yang di biarkan terurai indah sepunggung, berkulit putih, berkacamata tipis yang retak di sisi kiri nya, dan... cantik. Ya, Cantik. Salju mengakui itu. Bukan bermaksud membanggakan diri, tetapi kecantikan itu terpancar jelas di dalam dirinya. Ia bahkan memegang gelar perempuan Asia tercantik di universitas Cambridge. Banyak laki-laki yang melamar dan meminta dirinya untuk menjadi kekasih mereka, tetapi selalu itu hanya di tolak halus olehnya. Salju belum ingin merasakan cinta di usianya yang masih muda. Ia banyak mendengar cerita dari teman-temannya yang pernah mengalami jatuh cinta, lalu putus dan berakhir sakit hati. Salju sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta. Baginya, semua laki-laki sama saja. Dan ia tidak ingin terjerat dalam permainan bernama CINTA. Tidak kalau itu hanya akan membuat hatinya sakit.
Suara ketukan pintu membuat salju tersadar dari lamunannya.
“Masuk..” kata Salju dari dalam kamar.
”Salju..” panggil mama lembut.
“Mama..” kata Salju tersenyum.
“Sayang.. kamu sedang apa? Kata Amy, dari tadi pagi kamu mengurung diri saja di kamar.”
“Salju gak kenapa-napa kok ma. Cuma bingung aja harus ngapain, ma.” Kata Salju sambil menatap mamanya.
“Salju masih kesal sama papa?” Tanya Rienna sambil menyisir rambut anak semata wayangnya.
“Gak kok ma.. Salju gak kesel sama papa. Salju bisa mengerti kalau papa lagi sibuk. Gimana ya kabar papa sekarang?”
“Papa sehat kok. Kemarin papa sempet hubungi mama dan kasih kabar. Papa juga minta tolong sampaikan maaf karena gak jadi jemput kamu di bandara.”
“Ah.. papa. Bilangin sama papa kalau Salju baik-baik aja. Jadi jangan terlalu memikirkan Salju. Kan ada mama yang bisa jagain Salju sekarang.” Kata Salju sambil tersenyum. Ia bahagia karena masih mempunyai keluarga yang lengkap. Walaupun terkadang ia merasa sangat kesepian. Tapi orangtuanya tidak pernah membiarkan ia merasa kesepian terlalu lama.
“Iya nak. Mama yakin papa pasti senang kalau tau anak kesayangannya sibuk mikirin papanya. Nah.. sekarang Salju mau kan turun? Kita makan sama-sama di bawah.” Kata mama berdiri dari tempat duduknya. Salju mengangguk dan mengikuti Rienna turun menuju ruang makan.
Di sana ia melihat seseorang duduk di meja makan sambil membelakangi dirinya. Salju terkejut begitu menyadari siapa yang berada di hadapannya.
“Papa!” Pekik Salju senang. Ia berlari dan memeluk papanya dari belakang. Rony menatap Salju lembut. Senyuman Rony membentuk guratan dan garis wajah yang membuat dirinya terlihat semakin tua dan lelah.
“Halo sayang...” Kata Rony sambil mengecup kedua pipi putri tunggalnya.
“Papa kapan pulang? Kok gak bilang sama Salju? Kenapa tadi gak langsung main ke kamar Salju saja, pa? Salju kan kangen sama papa...” kata Salju masih sambil memeluk papanya. Ia tidak sadar kalau pelukannya makin erat dan membuat papanya hampir tercekik.
“Salju, papa bisa kehabisan napas kalau kamu tidak melepaskan cekikanmu di leher papa.” Kata Rony pura-pura sesak.
“Aduh.. maafkan Salju pa. Salju terlalu bahagia bertemu dengan papa.”
“Sini nak.. duduk di sebelah papa.” Kata Rony menepuk kursi di sebelah kanannya.
“Bagaimana keadaan papa?” tanya Salju.
“Seperti yang kamu lihat, papa baik-baik saja.”
“Ah.. tidak. Papa kelihatan, umm.. seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.”
“Belakangan ini papa sibuk sekali. Harga saham semakin turun. Papa sampai harus tinggal di kantor berhari-hari. Maafkan papa sampai tidak sempat menjemputmu minggu lalu.” Kata Rony. Ia mengelus rambut anaknya.
“Tidak masalah pa. Salju memang sempat kecewa karena rupanya pak Amin sopir kita yang jemput Salju, bukan papa. tapi, pak Amin udah bilang kok kalau papa lagi sibuk banget di kantor. Lagian Salju udah seneng banget bisa ketemu sama mama.”
“Jadi Salju gak seneng nih bisa ketemu sama papa?” kata mama dari dapur. Mama membawa semangkuk besar opor ayam kesukaan papa. Amy pembantu rumah juga mengeluarkan bermacam-macam sayuran yang masih hangat ke meja makan.
“Seneng dong ma..” Kata Salju sambil mengecup pipi mama dan papanya. “Tapi tadi mama kok gak bilang kalau papa pulang malam ini?”
“Mama sengaja gak bilang, sayang. Surprise dong..” kata Rienna. Ia mengambil tempat duduk di sebelah kiri suaminya.
“Maafin papa sayang. Sekarang papa baru bisa ketemu sama kamu.”
“Jadi urusan di kantor sudah beres pa?”
“Belum.. Tapi masalah saham sudah mulai stabil. Papa harus mencari tau, siapa yang berani-berani nya memainkan saham perusahaan.”
“Hmm...” Salju hanya mengangguk-angguk. Salju mengerti masalah yang di hadapi papanya. Suatu saat ia yang akan menggantikan papanya duduk di kursi perusahaan. Dan ia harus siap dengan masalah yang akan di hadapinya, termasuk masalah yang satu ini.
“Ya sudah.. Bagaimana kalau kita mulai saja makan malam kita? Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang papa ceritakan barusan. Papa yakin, kamu akan memegang perusahaan saat perusahaan L’Bian Group tinggi dan maju, bukan seperti sekarang. Kuliah lah yang baik nak. Papa bangga sama kamu.” Kata Rony. Ia sadar kalau anaknya sudah beranjak dewasa dan nanti, saham miliknya akan di kembangkan oleh putri tunggalnya. Dan Rony berjanji dalam hati kalau perusahaan itu pasti dalam keadaan meningkat saat Salju memegang kendali L’Bian Group dan Salju akan menikmati hasilnya di kemudian hari.
Rienna memang jago memasak. Rony makan dengan lahap seolah tidak pernah mencicipi masakan istrinya. Makan malam mereka kali ini terasa lebih hangat karena kehadiran Rony dan Salju di meja makan.
***
By : Elisabeth Vonessa

No comments:

Post a Comment