Salju menatap cuaca kota Jakarta yang beberapa hari ini sangat tidak bersahabat. Entah sudah berapa hari berlalu dengan cuaca mendung dan berakhir hujan. Salju menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan hari ini. Setelah hampir seminggu berada di Jakarta, ia belum sempat bertemu dengan papanya. Wajar memang, karena papa memiliki perusahan besar yang pasti tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Ia bisa mengerti walau sebenarnya sedikit kecewa karena papa tidak jadi menjemputnya di bandara minggu lalu. Tapi walau begitu, Salju senang bisa bertemu dengan mama tercinta. Mama sering mengingatkan Salju bahwa ia tidak boleh kecewa atas ketidakhadiran papa seminggu belakangan ini. Papa begitu sibuk mengurusi pekerjaannya di kantor. Salju mengerti. Ia harus bisa mengerti karena papa sedang berusaha keras mempertahankan apa yang sudah menjadi milik keluarganya.
Salju mengerang sedikit sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak ke cermin meja riasnya. Cermin itu memantulkan sesosok perempuan tinggi, langsing, berambut hitam pekat yang di biarkan terurai indah sepunggung, berkulit putih, berkacamata tipis yang retak di sisi kiri nya, dan... cantik. Ya, Cantik. Salju mengakui itu. Bukan bermaksud membanggakan diri, tetapi kecantikan itu terpancar jelas di dalam dirinya. Ia bahkan memegang gelar perempuan Asia tercantik di universitas Cambridge. Banyak laki-laki yang melamar dan meminta dirinya untuk menjadi kekasih mereka, tetapi selalu itu hanya di tolak halus olehnya. Salju belum ingin merasakan cinta di usianya yang masih muda. Ia banyak mendengar cerita dari teman-temannya yang pernah mengalami jatuh cinta, lalu putus dan berakhir sakit hati. Salju sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta. Baginya, semua laki-laki sama saja. Dan ia tidak ingin terjerat dalam permainan bernama CINTA. Tidak kalau itu hanya akan membuat hatinya sakit.
Suara ketukan pintu membuat salju tersadar dari lamunannya.
“Masuk..” kata Salju dari dalam kamar.
”Salju..” panggil mama lembut.
“Mama..” kata Salju tersenyum.
“Sayang.. kamu sedang apa? Kata Amy, dari tadi pagi kamu mengurung diri saja di kamar.”
“Salju gak kenapa-napa kok ma. Cuma bingung aja harus ngapain, ma.” Kata Salju sambil menatap mamanya.
“Salju masih kesal sama papa?” Tanya Rienna sambil menyisir rambut anak semata wayangnya.
“Gak kok ma.. Salju gak kesel sama papa. Salju bisa mengerti kalau papa lagi sibuk. Gimana ya kabar papa sekarang?”
“Papa sehat kok. Kemarin papa sempet hubungi mama dan kasih kabar. Papa juga minta tolong sampaikan maaf karena gak jadi jemput kamu di bandara.”
“Ah.. papa. Bilangin sama papa kalau Salju baik-baik aja. Jadi jangan terlalu memikirkan Salju. Kan ada mama yang bisa jagain Salju sekarang.” Kata Salju sambil tersenyum. Ia bahagia karena masih mempunyai keluarga yang lengkap. Walaupun terkadang ia merasa sangat kesepian. Tapi orangtuanya tidak pernah membiarkan ia merasa kesepian terlalu lama.
“Iya nak. Mama yakin papa pasti senang kalau tau anak kesayangannya sibuk mikirin papanya. Nah.. sekarang Salju mau kan turun? Kita makan sama-sama di bawah.” Kata mama berdiri dari tempat duduknya. Salju mengangguk dan mengikuti Rienna turun menuju ruang makan.
Di sana ia melihat seseorang duduk di meja makan sambil membelakangi dirinya. Salju terkejut begitu menyadari siapa yang berada di hadapannya.
“Papa!” Pekik Salju senang. Ia berlari dan memeluk papanya dari belakang. Rony menatap Salju lembut. Senyuman Rony membentuk guratan dan garis wajah yang membuat dirinya terlihat semakin tua dan lelah.
“Halo sayang...” Kata Rony sambil mengecup kedua pipi putri tunggalnya.
“Papa kapan pulang? Kok gak bilang sama Salju? Kenapa tadi gak langsung main ke kamar Salju saja, pa? Salju kan kangen sama papa...” kata Salju masih sambil memeluk papanya. Ia tidak sadar kalau pelukannya makin erat dan membuat papanya hampir tercekik.
“Salju, papa bisa kehabisan napas kalau kamu tidak melepaskan cekikanmu di leher papa.” Kata Rony pura-pura sesak.
“Aduh.. maafkan Salju pa. Salju terlalu bahagia bertemu dengan papa.”
“Sini nak.. duduk di sebelah papa.” Kata Rony menepuk kursi di sebelah kanannya.
“Bagaimana keadaan papa?” tanya Salju.
“Seperti yang kamu lihat, papa baik-baik saja.”
“Ah.. tidak. Papa kelihatan, umm.. seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.”
“Belakangan ini papa sibuk sekali. Harga saham semakin turun. Papa sampai harus tinggal di kantor berhari-hari. Maafkan papa sampai tidak sempat menjemputmu minggu lalu.” Kata Rony. Ia mengelus rambut anaknya.
“Tidak masalah pa. Salju memang sempat kecewa karena rupanya pak Amin sopir kita yang jemput Salju, bukan papa. tapi, pak Amin udah bilang kok kalau papa lagi sibuk banget di kantor. Lagian Salju udah seneng banget bisa ketemu sama mama.”
“Jadi Salju gak seneng nih bisa ketemu sama papa?” kata mama dari dapur. Mama membawa semangkuk besar opor ayam kesukaan papa. Amy pembantu rumah juga mengeluarkan bermacam-macam sayuran yang masih hangat ke meja makan.
“Seneng dong ma..” Kata Salju sambil mengecup pipi mama dan papanya. “Tapi tadi mama kok gak bilang kalau papa pulang malam ini?”
“Mama sengaja gak bilang, sayang. Surprise dong..” kata Rienna. Ia mengambil tempat duduk di sebelah kiri suaminya.
“Maafin papa sayang. Sekarang papa baru bisa ketemu sama kamu.”
“Jadi urusan di kantor sudah beres pa?”
“Belum.. Tapi masalah saham sudah mulai stabil. Papa harus mencari tau, siapa yang berani-berani nya memainkan saham perusahaan.”
“Hmm...” Salju hanya mengangguk-angguk. Salju mengerti masalah yang di hadapi papanya. Suatu saat ia yang akan menggantikan papanya duduk di kursi perusahaan. Dan ia harus siap dengan masalah yang akan di hadapinya, termasuk masalah yang satu ini.
“Ya sudah.. Bagaimana kalau kita mulai saja makan malam kita? Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang papa ceritakan barusan. Papa yakin, kamu akan memegang perusahaan saat perusahaan L’Bian Group tinggi dan maju, bukan seperti sekarang. Kuliah lah yang baik nak. Papa bangga sama kamu.” Kata Rony. Ia sadar kalau anaknya sudah beranjak dewasa dan nanti, saham miliknya akan di kembangkan oleh putri tunggalnya. Dan Rony berjanji dalam hati kalau perusahaan itu pasti dalam keadaan meningkat saat Salju memegang kendali L’Bian Group dan Salju akan menikmati hasilnya di kemudian hari.
Rienna memang jago memasak. Rony makan dengan lahap seolah tidak pernah mencicipi masakan istrinya. Makan malam mereka kali ini terasa lebih hangat karena kehadiran Rony dan Salju di meja makan.
***
By : Elisabeth Vonessa
Debu dan Salju
Thursday, March 10, 2011
Sunday, October 17, 2010
Keputusan Baru
Ia mengambil jaket kulit cokelatnya. Menghela napas pelan. Kemudian mengenakannya. Sepasang matanya mengerling sedikit ke arah gadis yang duduk di sampingnya, lalu sudut bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Gadis itu balik memandangnya heran, raut wajahnya menyiratkan ia tak mengerti apa maksud dari senyuman kecil itu.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
Sepasang mata itu menatap sang gadis dengan lembut, namun terkesan penuh rahasia. “Tidak...,” nadanya menggantung, masih mengulum senyum.
Gadis itu mendekat dengan cepat, “Apa?” ia memaksa.
“Astaga, tidak ada apa-apa, Indira...,” nadanya masih menggantung, jaket cokelat sudah terpasang di tubuhnya, menutupi kulitnya yang seolah baru terbakar sinar matahari.
Ketika ia melihat Indira nyaris menggerutu, tangan kanannya seolah refleks menyentuh kepala gadis itu pelan, matanya menangkap sosok Indira yang tersentak.
“Kamu selalu begitu,” keluh Indira. “Levin?”
“Ya?”
Indira memutar bola matanya. Melihat hal itu, Levin tersenyum kecil. “Kamu tahu apa yg ingin kukatakan. Sejak awal di pesawat tadi.”
“Apa? Mengenai kota ini, Jakarta?” tanya Indira setengah tersenyum.
“Yah..., begitulah,” jawabnya.
“Jakarta, adalah kota yang kutunggu-tunggu,” Indira menyambung, pandangan matanya menyapu bersih hingga ke sudut-sudut ruang cafe yang sedang disinggahinya.
Levin bergumam. “Sepertinya aku tahu,” balasnya.
Tiba-tiba gadis itu tertawa kecil. “Awal hidupku, Levin,” ia berbisik di telinga Levin.
“Ah, ya..., satu pertanyaan lagi. Bagaimana rasanya menunggu selama 2 tahun?” ia bertanya hati-hati.
Indira meletakkan cangkir kopinya kembali, tidak jadi menyesapnya. Bola mata Indira berwarna biru terang, dari sana Levin dapat melihat yang terdalam dari seorang Indira. “Rasanya beraneka ragam,” ujarnya.
“Seperti?”
“Kamu tidak akan suka mendengarnya,” jawab Indira, mengakhiri segala pertanyaan yang sebenarnya masih berlanjut dalam benak Levin.
Ia menahan nafas. Sebenarnya ia tahu benar apa yang dirasakan Indira, tapi jauh lebih baik ia tak perlu mengungkitnya lagi. “Kalau benar aku tidak suka,” Levin menimpali.
“Levin, lebih baik kita pergi sekarang, bandara selalu bising dan penuh sesak yah?” Indira mengeluh.
“Bahkan di cafe sekalipun?”
Senyum Indira mengembang, “Ah..., ya menurutku sama saja.”
“Kubawakan kopermu,” tawar Levin ketika bangkit berdiri dari tempatnya duduk.
“Thanks,” balasnya.
Keduanya berjalan berdampingan, keluar dari suasana cafe yang sedang ramai seolah membuat Levin dapat bernafas lega. Ia menekan tombol buka pada kunci mobilnya, Audi R8-nya menjawab tak jauh dari tempat mereka berjalan.
“Bagaimana kabar paman dan bibimu di sana?” Levin membuka pembicaraan sementara ia mengendarai mobilnya melesat keluar dari Soekarno Hatta.
Indira tersenyum. “Mereka sangat baik. Paman Lauren sudah tahu lebih dulu keputusanku untuk pindah sudah bulat. Ia menginginkan yang terbaik buatku.”
“Baguslah...” jawabnya.
“Dan..., bagaimana dengan Lexus?” Indira bertanya tiba-tiba.
Levin terdiam. “Sepertinya kamu lebih tahu tentang dia daripada aku.”
“Terakhir, dia memintaku untuk tetap tinggal.”
“Dia tahu kau akan pindah? Kemari?” tanya Levin.
“Bibi Clare tak sengaja bilang padanya,” Indira menghembuskan nafas berat.
“Sepertinya semuanya tidak bisa berjalan baik-baik, seperti semula,” Levin mengambil keputusan.
“Apapun yang terjadi, aku memilih, dan aku mencintaimu,” ujar gadis itu.
“Sulit jika kau melakukannya di tengah-tengah aku dan Lexus,” katanya berat.
“Menurutku sudah cukup sulit terlibat di keluarga Agsias. Terlalu banyak misteri, dan aku takut aku masih tak mengenalmu bahkan setelah 4 tahun ini berlalu, Levin.”
“Aku tidak memaksamu terlibat,” itulah. Itulah kata terakhir yang ingin kuungkapkan padamu, batinnya berujar letih.
“Aku terlibat dengan sendirinya...,” Levin tak menduga itu jawaban Indira.
“Semenjak kau bukan lagi Rhan, sepertinya kau menjadi lebih dewasa,” senyum mengembang di wajah Levin.
“Sudahlah, jangan dibahas. Siapapun kamu atau aku, sekarang adalah lembaran yang baru.”
“Yang dulu...,”
“Biarlah berlalu,” Indira menyambung.
By: Johanna Melissa
Gadis itu balik memandangnya heran, raut wajahnya menyiratkan ia tak mengerti apa maksud dari senyuman kecil itu.
“Ada apa?” tanya gadis itu.
Sepasang mata itu menatap sang gadis dengan lembut, namun terkesan penuh rahasia. “Tidak...,” nadanya menggantung, masih mengulum senyum.
Gadis itu mendekat dengan cepat, “Apa?” ia memaksa.
“Astaga, tidak ada apa-apa, Indira...,” nadanya masih menggantung, jaket cokelat sudah terpasang di tubuhnya, menutupi kulitnya yang seolah baru terbakar sinar matahari.
Ketika ia melihat Indira nyaris menggerutu, tangan kanannya seolah refleks menyentuh kepala gadis itu pelan, matanya menangkap sosok Indira yang tersentak.
“Kamu selalu begitu,” keluh Indira. “Levin?”
“Ya?”
Indira memutar bola matanya. Melihat hal itu, Levin tersenyum kecil. “Kamu tahu apa yg ingin kukatakan. Sejak awal di pesawat tadi.”
“Apa? Mengenai kota ini, Jakarta?” tanya Indira setengah tersenyum.
“Yah..., begitulah,” jawabnya.
“Jakarta, adalah kota yang kutunggu-tunggu,” Indira menyambung, pandangan matanya menyapu bersih hingga ke sudut-sudut ruang cafe yang sedang disinggahinya.
Levin bergumam. “Sepertinya aku tahu,” balasnya.
Tiba-tiba gadis itu tertawa kecil. “Awal hidupku, Levin,” ia berbisik di telinga Levin.
“Ah, ya..., satu pertanyaan lagi. Bagaimana rasanya menunggu selama 2 tahun?” ia bertanya hati-hati.
Indira meletakkan cangkir kopinya kembali, tidak jadi menyesapnya. Bola mata Indira berwarna biru terang, dari sana Levin dapat melihat yang terdalam dari seorang Indira. “Rasanya beraneka ragam,” ujarnya.
“Seperti?”
“Kamu tidak akan suka mendengarnya,” jawab Indira, mengakhiri segala pertanyaan yang sebenarnya masih berlanjut dalam benak Levin.
Ia menahan nafas. Sebenarnya ia tahu benar apa yang dirasakan Indira, tapi jauh lebih baik ia tak perlu mengungkitnya lagi. “Kalau benar aku tidak suka,” Levin menimpali.
“Levin, lebih baik kita pergi sekarang, bandara selalu bising dan penuh sesak yah?” Indira mengeluh.
“Bahkan di cafe sekalipun?”
Senyum Indira mengembang, “Ah..., ya menurutku sama saja.”
“Kubawakan kopermu,” tawar Levin ketika bangkit berdiri dari tempatnya duduk.
“Thanks,” balasnya.
Keduanya berjalan berdampingan, keluar dari suasana cafe yang sedang ramai seolah membuat Levin dapat bernafas lega. Ia menekan tombol buka pada kunci mobilnya, Audi R8-nya menjawab tak jauh dari tempat mereka berjalan.
“Bagaimana kabar paman dan bibimu di sana?” Levin membuka pembicaraan sementara ia mengendarai mobilnya melesat keluar dari Soekarno Hatta.
Indira tersenyum. “Mereka sangat baik. Paman Lauren sudah tahu lebih dulu keputusanku untuk pindah sudah bulat. Ia menginginkan yang terbaik buatku.”
“Baguslah...” jawabnya.
“Dan..., bagaimana dengan Lexus?” Indira bertanya tiba-tiba.
Levin terdiam. “Sepertinya kamu lebih tahu tentang dia daripada aku.”
“Terakhir, dia memintaku untuk tetap tinggal.”
“Dia tahu kau akan pindah? Kemari?” tanya Levin.
“Bibi Clare tak sengaja bilang padanya,” Indira menghembuskan nafas berat.
“Sepertinya semuanya tidak bisa berjalan baik-baik, seperti semula,” Levin mengambil keputusan.
“Apapun yang terjadi, aku memilih, dan aku mencintaimu,” ujar gadis itu.
“Sulit jika kau melakukannya di tengah-tengah aku dan Lexus,” katanya berat.
“Menurutku sudah cukup sulit terlibat di keluarga Agsias. Terlalu banyak misteri, dan aku takut aku masih tak mengenalmu bahkan setelah 4 tahun ini berlalu, Levin.”
“Aku tidak memaksamu terlibat,” itulah. Itulah kata terakhir yang ingin kuungkapkan padamu, batinnya berujar letih.
“Aku terlibat dengan sendirinya...,” Levin tak menduga itu jawaban Indira.
“Semenjak kau bukan lagi Rhan, sepertinya kau menjadi lebih dewasa,” senyum mengembang di wajah Levin.
“Sudahlah, jangan dibahas. Siapapun kamu atau aku, sekarang adalah lembaran yang baru.”
“Yang dulu...,”
“Biarlah berlalu,” Indira menyambung.
By: Johanna Melissa
Tuesday, September 14, 2010
New Begining
Salju menarik napas lega begitu pesawat yang di tumpanginya berhasil mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta. Itu berarti ia sudah sampai di kota kelahirannya – Jakarta. Salju tersenyum senang. Ini adalah liburan pertamanya setelah hampir dua tahun ia tidak kembali ke Indonesia. Kuliah di luar negeri rupanya tidak seenak yang Salju kira sebelumnya. Kalau tidak benar-benar fasih berbahasa inggris, ia tidak akan pernah sampai di University of Cambridge – England. Yap! Universitas terbaik di Inggris. Dan ia berhasil melewati dua tahun di sana tanpa pernah mendapatkan nilai yang rendah.
Kepulangannya kini karena undangan papa yang khusus meminta dirinya pulang ke Indonesia untuk merayakan hari ulang tahunnya yang jatuh tepat dua bulan yang akan datang. Dan tahun ini ia tidak perlu merayakan hari ulang tahunnya sendirian di kota Cambridge. Ia bisa merayakan ulang tahunnya seperti dulu lagi, bersama papa tercinta. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk merasakan kebahagiannya dua bulan ke depan.
Suara pramugari terdengar jelas dari Microphone bahwa pesawat sudah benar-benar memarkirkan tubuhnya dan para penumpang di persilahkan untuk turun. Kebahagiaan Salju membuncah begitu ia merasakan hawa panas dan terik matahari yang benar-benar menyengat di kulitnya yang putih. Ia membersihkan lensa kacamatanya yang buram. Dengan langkah tergesa-gesa, Salju mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di tempat pengambilan barang.
Salju tidak melihat sekeliling dan sibuk membersihkan kacamatanya sampai-sampai ia terpeleset air pel di depannya. Ia hampir jatuh kalau tidak ada tangan yang menariknya kuat.
“Auch!” protes Salju ketika tangan itu dengan kuat menariknya untuk kembali berdiri tegak. Kacamata yang di pegangnya jatuh dan retak di bagian kiri atas. Beberapa orang melihat Salju heran. Petugas kebersihan yang tidak melihat Salju terpeleset lalu di tegur oleh petugas kebersihan lainnya. Petugas itu meminta maaf pada Salju yang di sambut dengan anggukan pelan darinya.
Salju menatap kacamatanya terkejut. “Oh.. No! My glasses!”. Ia meratapi kacamatanya yang retak dan mendongak melihat siapa yang menolongnya. Salju melihat sosok laki-laki tinggi, putih, tegap dan... tampan. Laki-laki itu jelas bukan orang Indonesia. Bentuk tubuh yang atletis dan muka barat terlukis jelas di wajahnya. Tapi dengan segera Salju memalingkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak mau tertangkap basah sedang memerhatikan laki-laki itu.
“Are you okay miss?” tanya laki-laki itu.
“Yeah.. i’m fine.” Kata Salju sambil tersenyum. Laki-laki itu membalas senyuman Salju sekilas dan memindahkan pandangannya ke tangan Salju.
“How about your glasses?”
“Just a bit crack here.. not a big deal.” kata Salju sambil menunjuk bagian kiri kacamatanya yang retak. Laki-laki itu tersenyum maklum.
“So...”
“Thank’s for your help.” Kata Salju tak enak hati karena lupa berterima kasih.
“My pleasure miss..” dan laki-laki itu bergegas pergi meninggalkan Salju.
Salju menatap punggung laki-laki itu menghilang di kerumunan orang dan ia melanjutkan perjalanannya menuju tempat pengambilan barang.
Jakarta.. I’m comming! Batin Salju bersemangat dan segera melupakan retakan di kacamatanya.
***
By: Elisabeth Vonessa
Tuesday, August 24, 2010
Debu dan Salju - Prolog
Kau salju aku debu,
Bertemu tanpa sengaja
Kau jatuh ke dalam pelukanku,
Mengalir dalam darahku...
Kau hadir dan mengetuk gua pintuku,
Mengukir namamu di dalam hatiku,
Seakan jiwamu menyatu dalam rohku...
Hujan turun menghapuskan semua mimpi
Bias warnamu terhilang namun,
Kau tetap seperti salju... .
by : Johanna Melissa
Bertemu tanpa sengaja
Kau jatuh ke dalam pelukanku,
Mengalir dalam darahku...
Kau hadir dan mengetuk gua pintuku,
Mengukir namamu di dalam hatiku,
Seakan jiwamu menyatu dalam rohku...
Hujan turun menghapuskan semua mimpi
Bias warnamu terhilang namun,
Kau tetap seperti salju... .
by : Johanna Melissa
Subscribe to:
Posts (Atom)